Mistis’s Weblog

Duniaku & Dunia Lain

KISAH PERJALANAN BENCANA

Posted by mystys pada Mei 13, 2008

Oleh : Idris Nawawi

Perjalanan bencana selama beberapa tahun ini apabila tidak ada yang bisa mencegahnya, niscaya segala bencana akan mempunyai jumlah yang setiap saat bisa meluluh lantakkan jagat raya. Seperti apa gambarannya…?

Nabi Muhammad SAW pernah menggambarkan kepada para sahabat, bahwa umur dunia ini tak ubahnya seperti senja mendekati malam. Artinya, dunia atau jagat raya pada umumnya hampir tiba pada suatu masa kehancuran, atau yang dalam terminologi agama dikenal sebagai kiamat, armagedon, hari akhir, dan lain sebagainya. Dalam istilah keseharian, awam seringkali menyebut begini, “Dunia ini sudah jauh ke belakang, dekat ke depan.”
Kiamat memang akan segera tiba, meski tak seorang pun tahu kapan waktu pastinya. Telah begitu banyak tanda-tandanya. Mulai dari sikap dan tabitan manusia yang telah melenceng dari sifat kodratinya, hingga gejala atau fenomena alam yang sudah tak lagi sewajarnya. Contoh yang paling gampang adalah perubahan pola cuaca yang telah jauh meleset dari sifat aslinya. Di belahan bumi yang satu musim hujan jauh lebih panjang sehingga terjadilah bencana banjir, sedangkan di belakang bumi yang lain sebaliknya, musim kemarau sangat panjang dan menimbulkan kekeringan yang sangat parah.Para ahli metereologi dan geofisika menyebut fakta-fakta semacam itu sebagai fenomena yang disebabkan oleh pemanasan global atau global warming. Hal tersebut terjadi karena lapisan ozon bumi telah berlobang akibat dari apa yang disebut sebagai efek rumah kaca.
Akibat terlukanya lapisan ozon bumi kita, maka keasrian alam semesta mulai rusak ditimpa bencana yang datang silih berganti. Terik mentari kian menyengat dan menimbulkan bencana kekeringan, curah hujan yang melampaui batas sehingga menenggelamkan daratan di berbagai belahan dunia, amukan badai yang membawa kerusakan amat masif dan sulit diukur, serta berbagai bentuk bencana lainnya yang siap menyengsarakan ummat manusia, bahkan cepat atau lambat akan menghancurkan peradaban yang telah ada.
Disamping akibat berlobangnya lapisan ozon bumi kita, bencana juga muncul di mana-mana akibat dari tangan-tangan manusia yang serakah. Lihat saja apa yang terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Ribuan rumah penduduk menjadi rata akibat lumpur panas Lapindo. Puluhan ribu orang harus menatap masa depan dengan wajah muram dan tanpa kepastian. Ini terjadi akibat kerasukan dari manusia itu sendiri.
Lihat juga bencana longsor dan banjir yang terjadi di berbagai tempat di Tanah Ait. Pepohonan ditumbangkan oleh tangan manusia atas nama uang dan kemewahan hidup. Mereka, orang-orang yang tidak bertanggungjawab ini laksana srigala kelaparan yang tak pernah berpikir akibat buruk dari perbuatan yang dilakukannya. Alam yang semestinya dapat mengatur tata keseimbangannya sendiri hancur oleh tangan-tangan mereka, sehingga bencana pun datang silih berganti.
Perut bumi memang telah keropos akibat kehilangan zat minyak yang terus diambil setiap hari. Andai bumi dapat berbicara seperti kita, tentu dia akan menceritakan tangis dan keperihannya. Mungkin pula bumi akan mengabarkan tentang kerapuhannya, sehingga taka man lagi didiami oleh manusia.
Berbagai sifat bencana yang menghancurkan sifat bumi, memang membawa dampak yang sangat menakutkan. Nyawa manusia bagai tak berharga lagi, kehancuran sebentuk beradaban yang dibangun bersama perjalan sang waktu bagai sebuah pemandangan biasa. Jerit tangis dari orang yang ditinggalkan sana famili bagai sekilas pantun yang sesaat dihayati dan sesudahnya ditinggalkan tanpa ada beban di dalam dada.
Bencana mungkin adalah azab, teguran, atau bahkan nikmat. Kita memang tak pernah tahu. Kalaulah kita memaknai bencana sebagai azab atau teguran, maka sering kali kita hanya mengingatkan beberapa saat saja. Bencana bagai lentera. Orang-orang akan merasa takut suatu kegelapan dan cepat mencari lentera, namun di saat terang telah tiba, lentera akan dicampakkan dan kita melupakannya.
Haqqul yakin bencana akan terus datang silih berganti di berbagai belahan dunia. Indonesia termasuk negeri yang parah. Berbagai daerah tanpa bisa kita cegah akan terus dilanda bencana. Kematian yang begitu tragis, kesedihan yang tanpa batas, amarah yang tiada bisa terlampiaskan, dan kehilangan yang tiada bisa kembali lagi, telah menghiasai hari-hari yang lalu, dan akan menjadi duka di hari-hari yang akan datang.
Kapan bencana akan berakhir? Sungguh sangat mengerikan setetes azab yang dituangkan di muka bumi. Dan azab ini akan terus menerus datang menerpa bumi yang kian rapuh. Sebuah keadilan benar-benar telah ditunjukkan oleh Allah SWT sebagai simbol bayaran atas kelalaian umat manusia yang lebih mementingkan hidup dunia, dan melupakan kehidupan nanti.
Lalu bagaimana mengatasinya? Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Bencana hendaknya menjadi memontum utnuk melakukan intropeksi diri, dan mari kita bertanya, “Bisakah kita mengendalikan hidup ini ke jalan yang diridhoiNya?
Sesungguhnya bencana kerap terjadi karena amal perbuatan manusia yang lebih banyak diarahkan kejalan kedzoliman, seperti yang sudah dituliskan dalam kitab Mizanul Qubro. Dalam kitab ini banyak dijelaskan tentang hakikat perjalanan sebuah bencana; Kapan bencana diciptakan, karena apa bencana ada, dan mulai kapan bencana ditetapkan.
Nah, dalam tulisan kali ini, saya (Penulis) akan membeberkan kisah perjalanan bencana seusia dengan penjelasan yang terdapat dalam kitab Mizanul Qubro. Ihwal pembedaran kitab Mizanul Qubro menerangkan:
Bahwa Allah SWT menjadikan sebuah bencana hanya satu kali dalam setahun, tepatnya pada bulan Safar di penghujung hari rabu (\Hari rabu paling akhir di bulan Safar ).
Dari bencana yang sudah ditetapkan, sesungguhnya semua adalah sebuah perimbangan dari jutaan kenikmatan yang sudah diberikan pada setiap diri manusia. Dan bencana ini hanya diciptakan dari setitik air yang ada di lautan luas, atau dalam pengertian sesungguhnya ringan dan mudah diatasi andai manusia punya pemahaman untuk melakukannya.
Dari setitik bencana yang telah tercipta, Allah SWT menciptakan pula penangkalnya sehingga bencana tersebut tidak sampai terjadi, yaitu dengan sebuah keikhlasan hati untuk bersedakoh di malam Rabu pungkasan atau terakhir di bulan Safar.
Sayangnya, melihat kenyataan yang ada, kebanyak manusia lebih senang menutup diri dalam hal bersodakoh, sehingga ketentuan dari hukum Allah SWT, lewat sebuah mizan (timbangan) 70 % dari makhluk hidup yang ada lebih memetingkan menghanburkan uang ke jalan yang kurang bermanfaat dari pada bersedakoh mengikhlaskan sedikit uangnya menuju hidup bermanfaat.
Sementara itu, lewat wasilah yang diambil dari kitab Iqodzul Himam, dikatakan bahwa bencana akan terus melanda di berbagai belahan bumi, khususnya di Indonesia, adalah karena pertahanan dari doa manusia yang telah memudar. Semua berawal karena adanya kemalasan dari kita untuk memahami keluasan ilmu agama.
Kisah rentetan bencana yang bakal terjadi di seluruh permukaan bumi, sesungguhnya jauh di zaman walisongo sudah diingatkan oleh tokoh Waliyullah konroversial Syekh Siti Jenar. Dikisahkan, saat detik terakhir menghadapi ajalnya lewat eksekusi hukum pancung karena dekrit pemahaman ketauhidannya yang dianggap menyesatkan oleh kalangan Wali Songo, ketika itu Siti Jenar mengingatkan kepada seluruh pengikutnya, “Ingatlah wahai kalian semua! Sepeninggalnya aku nanti, sebelum datangnya bulan kelahiran Rasulullah SAW, Allah SWT akan mengingatkanmu dengan bencana yang turun menghancurkan kalian semua “.
Jika kita pahami secara sepintas lalu, ucapan Kanjeng Syekh Siti Jenar kala itu sepertinya bernada ancaman yang ditujukan kepada seluruh pengikutnya atau umat manusia pada umumnya, karena dia merasa dendam atas kematian dirinya yang sangat tragis. Namun demikian, bila kita hayati secara tahkikul ilmi, rasanya suatu kemustahilan seorang berderajat Waliyullah masih mempunyai perasaan dendam pada mahluk sesamanya. Lantas, apakah sesungguhnya?
Ucapan Waliyullah adalah kejujuran. Ulama Sufi menyebut bahasa Waliyullah adalah Kalam Allah SWT, yang benar adanya. Karena itulah, apa yang dimaksud lewat perkataan Syekh Siti Jenar yang seakan-akan berbau kecaman tersebut tidaklah dapat diartikan secara hitam putih saja.
“ Sesungguhnya ucapan Syekh Siti Jenar itu benar adanya, beliau mengingatkan kepada seluruh umat manusia untuk selalu diingat bahwa sebelum datangnya bulan Maulud di mana Rasulullah SAW dilahirkan, kita semua akan menapaki bulan sebelumnya yaitu bulan Safar yang mana di dalamnya Allah SWT menciptakan bentuk bencana untuk mengingatkan seluruh makhluk ciptaannya agar selalu mengikhlaskan sedikit harta bendanya disedakahkan untuk yang lebih membutuhkan, sehingga bencana yang telah tercipta menjadi sebuag rahmat untuk kemanfaatan seluruh bangsa manusia”.
Nah, dari kisah Syekh Siti Jenar pula akhirnya seluruh masyarakat Tanah Jawa (Baca juga: Indonesia) selalu diingatkan dengan kebudayaan adat istiadat yang hampir senantiasa dilakoni oleh anak-anak yaitu semua anak-anak saling berbondong melantunkan pujian panjang umur, dari satu rumah ke rumah yang lain, tepatnya dimalam Rabu terakhir di bulan Safar, sambil meminta keikhlasan yang punya rumah untuk memberinya sekeping uang recehan.
Kita mungkin bertanya, “Mengapa bencana kerap terjadi dan terus membawa korban nyawa manusia?
Inilah yang harus kita camkan dalam-dalam. Bahwasannya, dalam kitab Mizanul Qubro, Allah SWT telah berjanji, “Tiada yang selamat dari murkaku, sesungguhnya kalian semua adalah ciptaanku yang kapanpun selalu kuberi rohmat dan kuberi azab tergantung amal kalian yang diarahkan kejalan mana, kemanfaatan atau kemaksiatan “.
Bahkan dalam keluasan ilmu Allah SWT, yang dituliskan oleh tokoh Waliyullah Mindarojatil Quthbil Muthlak, Imam Ibnul Arabi, beliau menegaskan, “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan bentuk bencana di sela bulan yang telah ada (Safar) dari bentuk bencana yang hanya sepertiga tetes air ini mampu menghancurkan sepuluh gunung sekaligus, menenggelamkan daratan dengan hitungan detik dan mampu melenyapkan 700 juta nyawa manusia di setiap detiknya.“
Imam Ibnul Arabi juga menulis, “Bencana akan terus datang di muka bumi ini karena manusia sendiri yang meminta lewat sebuah kekufuran, kedzoliman, kemaksiatan, kemunafikan dan meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajiban/ketetapan hukum. Sehingga dengan janjiNya, Allah SWT terus memberikan peringatan kepada seluruh makhluk hidup agar bersiap diri menuju jalan hidup yang penuh manfaat “.
Imam Sanusi mengatakan, “Banyaknya bencana yang sering terjadi di muka bumi ini adalah suatu hadiah yang diberikan oleh orang-orang dzolim sehingga yang lain akan bisa lebih berpikir lewat kaca cermin dari bentuk musibah yang bisa kita lihat sebagai makna tafakur instropeksi diri untuk cepat-cepat beriman dan menebalkan keyakinan hati “.
Nah, sebagai perjalanan bencana yang harus dicermati, Habib Syekh Imam Suyuti membeberkannya, “Bencana selalu mengiringi dimana kedzoliman telah melampaui batas hukum syar’i wal bathin, di antara runtutan bencana yang terlahir di muka bumi hampir semuanya dari ulah sifat manusia yang banyak salah kaprah dalam menjalankan arti hidup.”
Beberapa hal yang disebutkan sebagai “ulah sifat manusia yang banyak salah kaprah dalam menjalankan arti hidup” itu dijelaskan oleh Imam Suyuti sebagai berikut:
“Memanfaatkan fasilitas ibadah untuk tujuan politik/musyawarah yang di dalamnya penuh hujatan terhadap sesama hamba Allah SWT, para ulama yang mulai rapuh dengan iming-iming harta benda, zinah yang kian transparan, akal yang mulai berani menyekutukan keagungan Allah SWT, manusia yang banyak putus asa dan menutup hatinya untuk terus mencari arti materi secara mudah (pesugihan)….” Dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Imam Ibnul Khoas, “Terjadinya bencana karena ulah sekelompok manusia dzolim sehingga manusia yang tidak berdosa kena imbasnya pula.
Kitab Khomsinal Akoid juga menjelaskan bahwa, “Turunnya bencana akibat ulah sekeompok manusia yang menjual dirinya demi kebutuhan materi, dengan adanya satu orang saja berperilaku seperti ini niscaya satu wilayah (seperti kabupaten) akan kena azabnya semua”.
Kembali ke pemahaman bencana yang disarikan dari kitab Mizanul Qubro, yang menegaskan bahwa dalam satu tahun sekali Allah SWT menciptakan bentuk bencana, maka oleh karena itu Nabiyullah Hidir AS selaku Sulthonurrijal yang menjaga bumi dan lautan, akan membagi bencana tersebut menjadi empat bagian, yaitu pada sifat bumi, air, api dan angin.
Sifat bumi mencakup bermacam bentuk bencana seperti: bencana yang disebabkan dari lava gunung, bebatuan, pepohonan, dan alat yang dibikin oleh manusia (transportasi).
Sifat air mencangkup berbagai bentuk bencana seperti bencana yang terlahir dari bentuk air bah, ikan yang memakan manusia, curah hujan yang tinggi, karang yang bisa membelah kapal dan lain sebagainya.
Sifat api mencangkup satu sifat yaitu, bencana yang terlahir dari bentuk nyala api seperti kebakaran.
Sifat angina mencangkup keseluruhan bencana yang muncul dari kekuatan alam, terutama yang disebabkan oleh pola cuaca. Ditegaskan bahwa dari sifat angin inilah bencana lebih banyak terjadi.
Ada sebuah dhaukiyah dari Habib Nur Ali yang mengatakan, “Perjalanan bencana selama satu tahun ini apabila tidak ada yang bisa mencegahnya, niscaya segala bencana ini akan mempunyai jumlah yang setiap saat bisa meluluh lantakkan alam jagat raya. Yaitu 1.700 bencana alam setiap tahunnya. Dan bencana ini terbagi ke dalaman empat sifat yang berbeda (yakni: 400 bencana dibawa oleh sifat bumi, 300 bencana dibawa oleh sifat air, 170 bencana dibawa oleh sifat api. dan 830 bencana lainnya dibawa oleh sifat angin).”
Nah, kita sepenuhnya harus percaya pada apa yang dikatakan oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW bahwa, dunia memang ibarat senja. Kegelapan akan segera tiba. Jalan terbaik bagi kita adalah segera kembali ke kodrat Illahi, bahwa kita diciptakan adalah untuk senantiasa menyembahNya, dengan implementasi takwa sesuai kapasitas diri kita masing-masing. Semoga tulisan ini bermanfaat!

3 Tanggapan to “KISAH PERJALANAN BENCANA”

  1. jaman edan said

    ya allah timpakan azab dan laknatmu di negeri ini yg bangga menyebut dirinya bangsa religius tapi kelakuannya seperti syetan maupun iblis, sudah tidak ada kejujuran/maksiat dimana-mana penyelenggara negara dari pusat sampai daerah 70 % maling/bajingan berdasi.Kyai/pastur ada juga yg doyang sex dengan umatnya !
    Selamatkanlah Tuhan orang2 yg takut dan taat padaMu, timpakan bencana gempa bumi 8.5 sr dan tsunami di laut selatan P. Jawa (patahan grindulu pacitan)karena pusat kebobrokan pemerintah. Semoga terjadi di Th 2008 atau 2009 !!!!

  2. Sahara said

    ya Allah Pemilik kerajaan langit dan bumi dan Pemilik Arsy yg agung dan penggenggam jiwa setiap mahluk Lindungi kami Muslimin muslimah dari azab Mu ya Allah, karena Engkau maha pengasih dan penyayang yang di hati nurani hamba Engkau bersemayam,jauhkan kami dari iblis yg di kutuk.

  3. saronto said

    meski saya juga orang indonesia, tapi saya juga setuju jika bencana ditimpakan ke tanah air kita, karena telah terbukti aparat /penyelenggara negara sudah tidak bisa dipercaya lagi, korupsi, nepotisme, kolusi, sex bebas, hukum memihak yang salah, sehingga sudah pantas negara indonesia ini dimusnahkan sebagai balasan dari tuhan terutama presiden & kabinetnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: