Mistis’s Weblog

Duniaku & Dunia Lain

MISTERI ROH DAN NAFS

Posted by mystys pada April 22, 2008

OLEH : HENDRI AFRIZAL

Persoalan roh, atau ruh, sejak dulu hingga kini tetap menjadi misteri. Sebab pengetahuan manusia tentang roh sangatlah sedikit, dan lebih banyak prasangka daripada kenyataan. Karena itulah timbul berbagai pemikiran dan kepercayaan tentang roh. Namun berbagai pendapat manusia tentang roh lebih banyak menyesatkan dari pada memberi petunjuk.
Pengetahuan yang benar tentang roh tentang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Ini bisa kita tilik dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu seorang Yahudi pernah bertanya tentang roh kepada beliau, sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Isra’: 85.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-mu, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Dalam riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud dikemukakan, Nabi Muhammad SAW, pada suatu hari berjalan bertongkat di Madinah disertai Ibnu Mas’ud, dan lewat di depan segolongan kaum Yahudi. Salah seorang dari mereka berkata, “Mari kita bertanya kepadanya.” Merekapun berkata; “Cobalah terangkan kepada kami tentang roh?”
Nabi Muhammad SAW berdiri sesaat dan mengangkat kepalanya ke langit, beliau diberi wahyu. Kemudian Nabi bersabda; “Roh itu termasuk urusan Tuhan mu, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Kata Ar-Ruh dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 24x dengan berbagai konteks dan makna. Dari semua ayat itu tidak ada yang berkaitan dengan manusia. Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi juz 15 menyebutkan, ada tiga pendapat mengenai kata Ar-Ruh di dalam Al-Qur’an.

1. Ar-ruh yang dimaksud ialah Al-Qur’an.
Al-Qur’an memang juga disebut Ar-Ruh di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, misalnya seperti firman Allah dalam surah Asy-Syura:52, “Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ar-Ruh (wahyu Al-Qur’an) dengan perintah kami.”
Dengan Al-Qur’an-lah kehidupan roh dan akal bisa diperoleh, karena dengan kitab suci inilah bisa diperoleh pengenalan mengenai Allah, para Malaikat, Nabi, dan Rasul-Nya, Kitab-kitabNya, dan akhir zaman.
2. Ar-Ruh yang dimaksud adalah malaikat Jibril AS.
Ini pendapat Al-Hasan Bashri dan Qatadah. Jibril disebut pula Ar-Ruh di bebagai tempat dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah SWT surah Asy-Syura; 193); “Al-Qur’an dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad).”
Juga firmanNYa surah Maryam:17 ; “Lalu kami mengutus roh ciptaan kami (Jibril) kepadanya (Maryam).”
Sementara itu, Jibril sendiri berkata pada ayat lain, surah Maryam (64), “Dan tiadalah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu.”
3. Ar-Ruh yang dimaksud Ar-Ruh adalah yang membuat tubuh manusia menjadi hidup.
Ini pendapat Jumhur, kesepakatan mayoritas ulama.

HAKIKAT ROH

Dalam penggalan pertama surah Al-Isra’ (85) disebutkan, roh adalah urusan Allah, bukan urusan makhluk, termasuk manusia. Hanya Allah yang tahu hakikatnya. Dan penggalan berikutnya menyebutkan, kalaupun makhluk atau manusia tahu, karena mereka diberi ilmu oleh Allha, dan jumlahnya hanya sedikit. Dari yang ‘sedikit’ itu, menurut Al-Marqhi, ada dua pendapat mengenai hakikat roh.
1. Roh adalah Jisim Nurani,
Sebangsa cahaya, yang hidup dan bergerak dari alam yang tinggi. Tabiatnya berbeda dengan tabiat jisim yang bisa diindera dan berjalan dalam jasad kasar. Ini sebagaimana air mengalir dalma bunga mawar, minyak dalam zaitun, dan api dalam bara.
Ia tidak bisa digantikan, dipisah-pisahkan, maupun dipecah-pecah. Roh memberi kepada jasad ini kehidupan dengan segala aksesnya. Kalau tidak, jadilah kematian. Ini pendirian yang dipegang teguh Ar-Razi dan Ibnu Qayyim dalam Kitabul Ruh telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
2. Roh bukanlah Jisim dan bukan pula sebangsa Jasmani.
Ia berkaitan dengan tubuh, dengan sikap membimbing dan mengatur saja. Ini adalah pendapat yang dianut oleh Hujjatul Islam (Pembela Islam) Imam Al-Ghazali dan Abu Qasim Ar-Raghib Al-Isfahani.
Orang sering menyamakan roh dengan nyawa, nafs. Kalau kita merujuk pada Al-Qur’an jelas keduanya berbeda. Sebagaimana pengertian di atas, roh adalah urusan Allah, sedang nafs lebih banyak merupakan urusan manusia.
Kesalahan menganggap bahwa roh sama dengan nafs terjadi ketika orang mengartikan ayat alam surah Shad (71), “Sungguh Aku menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya, dan ku-tiupkan roh-Ku kedapanya, hendaklah kelian hormat kepadanya.”
Juga pada surah As-Sajdh (8-9); “Setelah manusia diberi ruh, akan hidup. Tetapi mengapa ketika mati yang merasakan adalah nafs, bukannya roh? Sebagaimana Al-Qur’an surah Ali Imran (185) menyebutkan,” Tiap nafs merasakan kematian.
Jadi yang keluar dari tubuh manusia ketika mati bukan roh, tetapi nyawa atau nafs. Menurut Dr. Mustafa Mahmud, dalam bukunya terjemahaan Al-Qur’an Kainun Hayyun, nafs merasakan kematian tetapi tidak mati.
Ia merasakan kematian pada saat keluar dari badan. Nafs sudah ada sebelum manusia lahir, dan akan ada sepanjang hayat. Setelah jasad mati dan nafas keluar, ia akan kembali lagi kepada jasadnya di hari kiamat.
Wujud nafs sebelum lahir dapat diketahui dari firman Allah, surah Al-A’raf (172), “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-cucu Adam dari sulbi (pinggang) mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka seraya berfirman, ‘Bukan aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab,’ Benar (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”
Sementara Dr. Quraish Shihab dalam makalah berjudul manusia dalam pandangan Al-Qur’an cenderung pada pendapat bahwa, usai ditiupkan roh kepada manusia, manusia menjadi alq akhar (makhluk yang unik), seperti pada surah Al-Mukminun:14.
Makhluk yang unik, dalam arti berbeda dengan makhluk lain, seperti orang utan (binatang), yang juga punya nyawa tetapi kepadanya tidak ditiupkan roh. Karena itu, nyawa bukan sesuatu yang menjadi manusia unik, tetapi rohlah yang membuat manusia menjadi lain dari makhluk lainnya.
Kata nafs selalu merujuk kepada makhluk, tetapi ada juga yang menunjuk kepada “Nafs Tuhan” (termasuk ayat mtasyabihat, ayat yang belum diketahui secara pasti pengertian), seperti firman-Nya, surah Al-an’am:12), “Allah mewajibkan atas nafsNya menganugerahkan rahmat. Begitu juga surah Ali Imran: 28,” ….. dan Allah mengingatkan kamu akan nafs-Nya. Juga, surah Al-Maidah: 116, “Engkau mengetahui nafs-ku (Isa), tetapi aku tidak mengetahui nafs Engkau.”
Hanya saja, apabila nafs dinisbahkan kepada Allah, itulah zat Allah. Nafs Iiahiah dan nafs insaniah hanya sama dalam sebutan, tetapi pada hakikatnya sangat berbeda. Sebab, sebagaimana disebut dalam surah Asy-Syura: 11, “Tiada sesuatu yang serupa dengan dia.”

2 Tanggapan to “MISTERI ROH DAN NAFS”

  1. umar said

    assalamualaikum wr wb, trim’s tulisan ini dpt mncerahkan hati kita

  2. Mustafa Adnani said

    Bagaimana pemahaman Anda ihwal ayat QS7:172, apakah nafs itu masih berada dalam alam kita belum dilahirkan atau nafs yg sudah hidup di dunia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: