Mistis’s Weblog

Duniaku & Dunia Lain

DENTANG JAM GEOLOGIS

Posted by mystys pada Maret 29, 2008

OLEH : MAWAN SUGANDA

 

Dentang jam di malam tahun baru selalu ditunggu orang dengan penuh keceriaan. Beda dengan apa yang disebut jam geologis, dentangannya sangat tidak diharapkan sebab itu berarti selangkah lebih dekat kepada periode zaman es. Pada saat itu barangkali peradaban manusia sudah musnah.

Seorang anak manusia perlu makan, tidur, bangun, bekerja, dan beristirahat. Hal yang sama terjadi pada bumi kita ini. Bumi dapat dipersonifikasikan dengan manusia yang juga melakukan hal yang sama kendati tentu saja dalam skala yang jauh lebih besar. Di dalam ‘hati’ bumi ada jam geologis yang membuatnya sekali waktu kembali ke keadaan tertentu. Suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan.

Kali ini jam geologis akan membawa bumi ke periode panjang zaman es. Sebagian ilmuwan malah memperkirakan bahwa efek rumah kaca akan mempercepat kembalinya bumi ke zaman es, sekitar 2000 tahun lagi.

Dalam dongeng dan mitologi disebutkan bahwa setelah berlangsung masa beku abadi, para dewa mengirimkan panas dan api ke dunia. Bumi lalu menjadi seperti orang tua yang penyayang, enak dihuni dan nyaman. Perlahan-lahan terbentuk peradaban. Muncul lukisan kuno di goa-goa. Menyusul tulisan cuneiform atau tulisan paku, yang segera diikuti bahasa tertulis, pembangunan piramida, dan penyusunan sejumlah peta langit oleh para astronom Cina.

Semuanya ini mungkin karena ada jeda waktu dari suatu zaman es, yang tidak tertahankan, ke zaman es berikutnya. Barangkali ini tidak dapat disebut kiamat dalam arti sebenarnya. Akan tetapi faktor pemusnah kehidupan itu ada.

Periode peradaban manusia, yang dimulai sejak zaman Sumeria sekitar 7000 tahun lalu hingga sekarang, disebut interglacial. Inilah masa di mana siklus es dapat dikatakan hanya menarik napas sebentar, lalu kembali lagi ke zaman es berikutnya. Datangnyapun sudah hampir sekitar 2000 tahun lagi.

Dengan demikian, manusia jangan berbangga dulu dengan semua pencapaiannya. Baru menciptakan peradaban 7000 tahun sudah datang lagi zaman es yang akan membekukan semuanya selama 110.000 tahun. Maklumlah masa interglacial hampir berakhir. Intensitas sinar matahari yang menimpa wilayah Sub-Arktik, musuh alami dari proses percepatan zaman es, sudah sampai dipuncaknya dan tidak akan meningkat lagi selama ribuan tahun.

Bila masa lalu dijadian patokan, maka dalam 2000 tahun lapisan es dari kutub utara dan selatan yang maju terus, akan nyaris menjangkau khatulistiwa.

Memang datangnya zaman es tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kebiasaan yang ditimbulkannya pun pasti mengerikan. Kota-kota besar di bumi akan tertutup selimut es. Daerah pertanian yang menjadi “keranjang roti” masyarakat Eropa dan Amerika bakal berubah wajah menjadi padang tundra yang tidak lagi menghasilkan apapun. Tidak terhitung lagi berapa ribu spesies yang bakal musnah. Selarik kecil wilayah di ekuator yang masih dapat dihuni, serta merta akan jadi rebutan semua penghuni bumi.

Penduduk dari berbagai penjuru dunia maju menggunakan hukum rimba untuk merebut tanah yang masih bisa dihuni tersebut. Dan bumi jadi kacau balau karena hasrat mempertahankan hidup akan jauh lebih kuat dari pada hasrat mentaati peraturan masyarakat manusia.

Sebutulnya apa penyebab abad es itu? Beberapa misteri alam belum terpecahkan sampai saat ini. Namun pada tahun 1920-an seorang ahli matematika Yugoslavia, Milutin Milankovitch, menegaskan bahwa varian orbit bumi serta aksis inklinasinya bersiklus antara 23000, 41000, dan 100.000 tahun.

Dengan kata lain, penjelasan konvensional mengenai abad es untuk sementara bertumpu pada siklus orbit bumi. Sementara itu, sejumlah ahli mencoba mencari faktor pemicu yang mempercepat proses kembalinya bumi ke zaman es. Menurut William Ruddiman dan Mauren Raymo dari Universitas Kolumbia, menyatakan bahwa sekitar 40 juta tahun lalu ketika kekuatan tektonik menimbulkan “gaya angkat” pada Plato Tibet, terbentuklah pegunungan Himalaya.

Pegunungan ini pada gilirannya menjadi hambatan pokok bagi arus angin di bumi. Hal ini tentu saja memberi eksentuasi yang kuat pada pergeseran iklim. Naiknya elevasi pegunungan ini mengubah pola hujan sedemikan rupa sehingga menyebabkan karbondioksida di atmosfer lenyap lebih cepat dari yang pernah terjadi. Faktor ini menjadi penyebab terjadinya pendinginan global.

Perlu ditambahkan juga, pada saat ini umat manusia membahayakan dirinya sendiri dengan cara terlalu boros menghabiskan minyak bumi dan hutan tropis. Pemborosan dalam bentuk pembakaran ini jelas meningkatkan jumlah karbondioksida ke angkasa. Dengan begitu, efek rumah kaca kian dipercepat. Bumi makin panas dan kedatangan abad es jadi lebih maju dari yang seharusnya.

Ya, teori memang bermunculan. Tetapi sayang, sampai saat ini ilmuwan kita belum sanggup memahami sampai tuntas mengapa tiba-tiba muncul abad es, mengapa tiba-tiba berhenti, dan mengapa kemudian berulang kembali.

Sebagian mereka memperhitungkan bahwa sekali lempengan es raksasa menutupi belahan bumi utara, prosesnya akan terus mengakselerasi dan bumi akan terperangkap dalam kebekuan yang luar biasa. Sebabnya jelas, sebagian besar daratan bumi menjelma menjadi lapisan putih salju, yang bakal memantulkan mayoritas panas surya ke angkasa luar.

Dengan semakin menebalnya lempengan es dan salju, bobotnya menjadi begitu besar sehingga menghancurkan kulit bumi (mantel). Dalam kaitan dengan datangnya abad es ini, boleh dikata bahaya sudah diambang pintu. Proses sudah menggejala, jam geologis sudah berdetak.

Maka para ahli buru-buru mengirim pesan untuk umat penghuni bumi, “Jangan tunggu sampai bahaya jadi kenyataan dan menghancurkan kita.”

Satu-satunya harapan adalah remineralisasikan bumi sekarang juga. Karena kebekuan abad es bakal membuat segalanya jadi mustahil.

Pernah dengar tentang remineralisasi? Ya, debu-debu halus yang mengandung zat hara dihamburkan ke hutan-hutan di seluruh bumi untuk mempercepat proses pertumbuhan hutan. Pada saatnya, hutan akan mengembalikan keseimbangan karbon di atmosfir sampai pada tingkat yang nyaman. Kondisi hidup menjadi lebih menyenangkan.

Namun ini soalnya, orang gila mana yang mau menggiling tanah dan bebatuan sampai halus hanya untuk menyebarkannya di hutan? Keturunan kita, mungkin saja.

Kalau tidak, maka pilihannya adalah bersicepat mencari sejengkal kapling di khatulistiwa sebelum terjadi “demam tanah”. Istilah ini merujuk pada sebuah sebutan kuno “demam emas” pada abad ke 18 di Amerika Serikat dan Kanada. Ketika itu semua orang tergiur mengimpikan emas di daerah pertambangan.

Bedanya, kalau datang kiamat musim dingin, logam mulia tak lagi jadi rebutan. Semua orang hanya akan berlomba cepat untuk satu hal yaitu sekapling “emas hitam” di khatulistiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: