Mistis’s Weblog

Duniaku & Dunia Lain

KIDUNG NAGA DUNIA

Posted by mystys pada Maret 18, 2008

OLEH: MAWAN SUGANDA

Tulisan ini kami rangkum berdasarkan tulisan panjang karya seorang tokoh supranatural Indonesia. Kisah tentang Kidung Naga Dunia ini setidaknya penuh dengan makna simbolik. Semoga, kita menjadi insan-insan yang bijak….

Menurut keterangan para waskita, di pulau Jawa ini konon hidup seorang tokoh bernama Hyang Megantara. Dia dinamakan demikian oleh mereka yang kebetulan berjumpa dengannya di celah-celah perjalanannya dari gunung ke gunung. Mungkin awal nama Mega yang dilekatkan kepadanya itu disesuaikan dengan warna jubahnya yang seperti warna mega ketika menjelang maghrib, jingga dan ketembaga-tembagaan.
Untuk berjumpa dengannya, sungguh suatu hal yang teramat sulit sebab tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah. Terkadang orang mengatakan bahwa dia ada di tengah-tengah Selat Sunda, tepatnya di goa Sanghyang. Terkadang ada yang melihatnya di kaki Gunung Krakatau. Namun tidak jarang pula dijumpai orang di goa Lengse, atau di Parangtritis.
Penampilannya pun terkadang berubah-ubah. Disuatu saat ia dijumpai orang seperti gelandangan yang terlantar. Di saat itu lain bahkan ada yang menganggapnya sedeng alias kurang waras. Pada bulan Haji, ia sering dilihat orang berada di atas Batu Masjid, di ujung Cagar Alam Ujung Kulon. Tak seorangpun yang mengetahui, bagaimana ia bisa sampai ke sana.
Kata seorang waskita, pada suatu hari Hyang Megantara duduk terpaku menghadap kiblat, di sebuah ceruk batu di tengah Selat Sunda. Tak lama kemudian terlihat bibir ombak itu merupakan suatu penyamaran bagi penglihatan manusia biasa. Dan ia tahu juga, bahwa seluruh makhluk di dalam laut sedang mengisi menyambut kedatangan tamu.Kemudian semburan air laut seperti disiramkan ke atas puncak batu. Hyang Megantara diam saja, dan tak setetes airpun yang melekat pada pakaiannya. Bersamaan dengan itu, serentak muncul dua moncong terjulur dari air. Rayapannya rata dengan batu tempat Hyang Megantara duduk.
Hyang Megantara lalu membuka ikat kepalanya yang bertuliskan huruf-huruf yang disulam dengan benang emas. Kebutan ikat kepala itu membuat air laut membludak mundur, sehingga bagian belakang kedua makhluk yang datang jelas kelihatan. Ternyata dua ekor naga. Matanya biru bening, seperti nyala warna cat spotlight tertimpa cahaya lampu. Besar mata tersebut masing-masing seperti telur ayam negeri. Jauh di belakangnya, tampak ujung ekor yang melentur-lentur timbul tenggelam di permukaan laut.
Kedua naga itu kemudian mengucapkan salam, disambut oleh Hyang Megantara dengan salam pula. Suaranya sebagian ditelan gemuruh ombak. Setelah itu tampak mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan, namun bukan dengan mulut biasa melainkan melalui wisik hati.
“Kami naga dunia datang berkunjung,” ucap yang di sebelah kanan, yang kelihatan warna sisiknya sebih tua dan tiga misalnya seperti cambuk ekor ikan pari, berombak ke atas punggungnya.
“Kalian menjaganya dengan baik?” tanya Hyang Megantara. “Kemana pimpinan kalian?”
“Dia turun ke dalam bumi pulau ini, menunggu perintah Sang Hyang Widi untuk mengerahkan dhabatul ardhie keluar menjelang akhir zaman,” kata yang di sebelah kiri, dengan pinggang terayun-ayun dipukul ombak yang mulai besar menjelang tengah malam. Kabut dan awan hitam bagai sengaja menutupi pertemuan ini.
Sirip punggung mereka yang seperti bentuk mata gergaji berukuran raksasa, berkilauan geriginya. Sisik besar seperti lembaran piring-piring alumunium disusun, gemerlapan di bawah air.
“Kami disuruh datang untuk mengucapkan Alhamdulillah, karena jalan-jalan kami yang akan datang telah didinginkan orang tua,” ujar yang di kanan lagi. Hyang Megantara diam sejenak.
Selanjutnya, yang lebih tua warna sisiknya mengatakan bahwa telah bocor berita-berita gaib, menyebabkan banyak yang mulai mencari wisik ke gunung-gunung, karena alam telah memberikan tanda-tanda.
“Telah tertutup oleh kalimah timah hitam,” jawab Hyang Megantara.
“Syukur, Hyang Megantara,” sahut mereka hampir serempak. “Karena kalau tidak begitu, tugas kami akan sangat berat.”
“Sudah tahukah kalian waktunya?” tanya Hyang Megantara.
“Tersebut di dalam Kitab Khaishasul Ghaibah, bila terjadi perang besar, dan dunia diliputi asap selama 44 hari, dan manusia tinggal 1/99. Ketika Pulau Manusia atau Pulau Jawa dipenuhi manusia, karena asap tidak sampai ke sini,” jawab salah satu di antara naga itu.
Sebelum ketiganya berpisah untuk mengemban tugas masing-masing, dua naga tersebut berganti-ganti memperdengarkan kidung yang sering ditembangkan oleh dalang waskita. Kidung yang menjadi lukisan vignet bagi manusia. Kedua naga itu memang sangat hafal kidung ini, karena merekalah yang berada pada kedua sisi lancip kelir wayang kulit, dua naga yang saling berhadapan.
Adapun bunyi kidung itu sebagai berikut :
Dene besuk nuli ana,
Tekane kang Tunjung Putih,
Semune Pudhak kasunsang
Bumi Mekah dennya lair,
Iku kang angratoni,
Jagad kabeh ingkang mengku,
Juluk Ratu Amisan,
Sirep musibating bumi,
Wong nakoda melu manjing ing samuwan.
Prabu tusing waliyullah,
Kedhatone pan kekalih,
Ing Mekah ingkang satunggal,
Tanah Jawi kang sawiji,
Prenahe iku kaki,
Parek lan Gunung Perahu,
Sakulone tempuran,
Balane samya jrih asih,
Iya iku ratu rinenggeng sajagad.
(Jayabaya Musabar).

Terjemahannya kira-kira :
Kemudian aku datang
Tunjung Putih
Pudak Kasunsang
Lahir di bumi Mekah
Menjadi raja di dunia,
Bergelar Ratu Amisan,
Redalah kesengsaraan di bumi,
Nahkoda ikut ke dalam persidangan.
Raja keturunan waliyullah,
Berkeraton dua,
Satu di Mekah,
Dan di pulau Jawa yang satunya,
Letaknya dekat dengan Gunung Perahu,
Sebelah barat tempuran,
Dicintai pasukannya,
Memang raja yang terkenal di dunia.

Ketika kedua naga itu berbalas-balasan kidung, suara mereka seperti gamelan menjelang akhir pertunjukan wayang kulit. Tak sebanding suara tersebut dengan bentuk tubuh mereka yang besar perkasa.
Sementara itu Hyang Megantara menadahkan kedua tangannya ke langit memanjatkan doa, semoga Tuhan menurunkan segala berkah kepada pulau ini. Pulau yang juga bergelar Pulau Nyawa, Pulau Roh, Pulau Sorga, Pulau Cinta, dan Pulau Manusia, tempat manusia-manusia kelak melarikan diri karena dikejar api dari barat, diancam asap (radio aktif) selama 44 hari.

4 Tanggapan to “KIDUNG NAGA DUNIA”

  1. naga kembar,naga melati, nagabangau, pancer songo, knayi tunggul yudha, giring gondomukti supranatural alam jagad raya sak kabehi dening lelembut bumi nusantoro tumeko amargo mbah khair, mbah lado, mbah suryopodo, si adek hermawan , juga mbah sunan kalijogo yang mengirim pati geni marang haji mukti bin muntair ahmad muhammad bin haji mukti.

  2. abah abhi said

    ini cerita apakah imaginasi ataukah sebuah dongeng ?

    apa yang tersurat dari keinginan cerita ini ?

    salam,
    yang masih penasaran

  3. pradana wisnumurti said

    Semua kejadian di masa yang akan datang adalah rahasia Allah SWT, disini kewajiban kita hanya semata mata untuk beribadah kepadaNya.
    Berbaktilah kepada kedua orang tua, agama, bangsa dan negara semoga Allah SWT memberikan rahmat dan curahan kasih sayang untuk bangsa Indonesia khususnya dan dunia umumnya, Amien.

  4. rendi said

    bagi para sedulur yg ada masalah gaib seperti
    kena santet atau sihir,sering ketipu atau sial,sulit jodoh,memisahkan pil atau wil,pesugihan putih(kusus buat yg hutang punya banyak)
    silahkan
    mbahagus31@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: