Mistis’s Weblog

Duniaku & Dunia Lain

MENJAWAB KONTROVERSI SEPUTAR JIMAT

Posted by mystys pada Maret 13, 2008

OLEH: ZAHRA FAHIRA

Benarkah jimat memiliki kekuatan yang tersembunyi? Apakah ini hanya takhayul semata? Tulisan ini akan menjawabnya….

Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Jimat” diartikan sebagai benda yang mengandung kesaktian untuk menolak penyakit, menjadikan kebal senjata, dan sebagainya.
Penggunaan “dan sebagainya” pada keterangan tersebut agaknya sengaja dilakukan penyusun kamus agar pendefinisian kata “Jimat” tidaklah terlalu panjang dan bertele-tele. Pada kenyataannya, keyakinan mengenai jimat memang tidak berhenti pada aspek menolak penyakit dan kebal senjata. Masih banyak aspek-aspek lain yang diyakini bisa muncul lewat kekuatan (gaib) sebuah jimat. Sebagai contoh, jimat untuk peruntungan, jimat pengasihan, hingga jimat untuk kekuatan seks.
Benda-benda yang dianggap sebagai jimat dilaporkan ditemukan di berbagai belahan dunia. Pada masyarakat Mesir Kuno, misalnya, ada macam-macam jimat yang ditemukan menempel pada mumi. Dua di antaranya adalah yang disebut Scarab sebagai lambang keabadian, dan Ankh berupa palang terbalik sebagai simbol kehidupan. Kedua model jimat ini masih digunakan di Barat.
Di wilayah Polinesia terdapat Tiki, berupa benda kecil berbentuk ukiran tubuh manusia yang berhubungan dengan kelahiran. Jimat model ini juga masih populer di Barat.
Sementara itu, benda-benda alamiah berbentuk aneh pun kerap dipakai sebagai jimat. Mulai dari logam, bulu, kain, kayu, tulang, kerang, gigi dan kuku binatang, sampai tanaman. Barang-barang itu diyakini menyimpan energi dari kekuatan alam. Sebagai contoh, bagi pria suku primitif Mocovi di Chaco, Amerika Utara, kuku rusa yang diikatkan di pergelangan kaki dan pinggang dijadikan sebagai jimat agar membuat mereka bisa berlari secepat rusa.Atau, kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh. Di kalangan masyarakat kita pun ada kepercayaan yang nyaris serupa. Batu akik kecubung asihan dipercaya punya khasiat menolak penyakit menular, menambah rasa percaya diri, kewibawaan, dan kehormatan. Jenis akik ini biasanya juga dipakai sebagai jimat agar enteng jodoh.
Demikianlah beberapa buah contoh jimat alamiah, yang tentu saja untuk memperolehnya tidaklah mudah. Bahkan, jimat-jimat alamiah tersebut sejatinya tidak bisa langsung siap pakai atau langsung terasa khasiatnya, melainkan juga harus melalui proses ritual tersendiri untuk pengisiannya.
Sekarang, mari kita fokuskan pembahasan kita pada berbagai jenis jimat buatan manusia, yang tentu saja ahli dalam bidang ini. Mengutip pendapat Prancis Barrett dalam The Magis or Celestial Intelligencer, apa yang disebut sebagai jimat buatan tersebut telah dikenal orang sejak zaman dahulu kala, dan khasiatnya memang bisa dirasakan. Sebagai contoh, Barrett mengatakan, “Jika seseorang mengenakan jimat dari perak, logam yang mewakili bulan, dibuat ketika bulan sedang baik, maka orang itu akan mendapatkan kesehatan yang baik dan dihormati orang.”
Menurut Saipudin, paranormal yang cukup kondang dengan berbagai kreasi bentuk jimat, apa yang dinamakan sebagai jimat buatan memang sengaja “diisi” dengan kekuatan gaib lewat ritual tertentu. Dengan disertai doa dan niat tertentu, kekuatan itu akan mengalir ke dalam benda yang menjadi sarana jimat.
“Pengisian kekuatan gaib pada benda-benda tersebut harus dengan laku (tirakat). Misalnya, dengan bertapa seperti dilakukan para empu zaman dulu. Atau kadang saya mengisinya dengan cara melakukan wirid dan riyadhoh, dengan disertai puasa selama empat puluh hari,” tambah Saipudin
Jimat buatan memang dibikin oleh ahlinya dengan cara mencurahkan pikiran dan kekuatannya pada suatu benda sehingga menghasilkan energi gaib yang luar biasa. “Khasiat jimat, terutama jimat buatan, sangat tergantung pada niat saat pengisian,” tegas Saipudin.
Ada anggapan awam bahwa setiap benda bisa “diisi” atau dijadikan sebagai jimat. Oleh Saipudin hal ini dianggap kurang tepat. Dengan mengutip penjelasan yang terdapat dalam Kitab Mamba’u Usulil Hikmah, dia menyebutkan hanya ada empat macam benda yang bagus dijadikan sebagai media jimat. Keempat macam benda tersebut, adalah: kain, kertas, logam (terutama emas, perak, besi, dan timah), dan kulit binatang (harimau dan kijang).
Pemilihan media jimat tersebut tentu saja harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan pembuatan jimat. “Sebagai contoh, untuk membuat jimat pelarisan bisnis atau usaha itu sangat baik bila menggunakan media kain atau logam berupa perak atau besi. Sementara untuk kadigdayaan, sangat baik jika menggunakan media berupa kulit binatang, harimau atau kijang,” papar Saipudin.

Khasiat Jimat
Benarkah sebuah jimat dapat berkhasiat? Atau mungkin khasiat itu muncul akibat sugesti semata? Lantas, apakah benar menggunakan jimat itu secara hukum agama (Islam) dikatakan sebagai syirik?
Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas, yang selama ini menjadi kontroversi di kalangan masyarakat awam, sebelumnya marilah kita simak kisah berikut ini, yang kami nukilkan dari Kitab Kisosul Anbiya….
Seperti diketahui, atas ijin Allah, Nabi Sulaeman AS bisa melakukan hal-hal yang sangat luar biasa. Dia bisa memerintah bangsa jin, menundukkan angin, berdialog dengan berbagai jenis binatang, dan lain sebagainya. Berkat kemampuannya yang maha luas ini, Sulaeman menjadi seorang raja yang kaya raya, dan mendapat pengakuan baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Kendati demikian dia selalu memerintah dengan adil dan bijaksana.
Untuk melancarkan roda pemerintahan yang dipimpinnya, Sulaeman didampingi oleh dua orang perdana menteri. Masing-masing adalah Asip Bin Barkhoya yang berasal dari bangsa manusia, dan Istirohi yang berasal dari bangsa jin.
Tanpa sepengetahuan Sulaeman, Istirohi sesungguhnya sudah sejak lama ingin mengetahui apakah yang menjadi sumber kekuatan sang nabi. Sebagai jin yang licik dan licin, dia selalu kasak-kusuk mencari rahasia itu, sampai akhirnya dia pun mengetahui bahwa sumber kekuatan Nabi Sulaeman terdapat pada cincin kesayangannya. Cincin ini memang tak pernah lepas dari jari manis Sulaeman.
Istirohi tak pernah berhenti mencari akal untuk mencuri cincin ini. Sampai suatu ketika mimpinya itu menjadi kenyataan.
Dikisahkan, suatu ketika saat Nabi Sulaeman sedang mandi di kolam pemandian raja, tanpa curiga ada yang memiliki niat jahat pada dirinya, dia meletakkan cincin kesayangannya itu di atas batu yang ada di tepian kolam. Ketika itulah Istirohi mencurinya. Dia kemudian segera pergi ke ruangan sang raja. Begitu memakai cincin tersebut, maka menjelmalah Istirohi sebagai Sulaeman yang agung dan perkasa.
Lantas, apa yang terjadi dengan Nabi Sulaeman?
Dikisahkan, setelah kehilangan cincinnya maka dia pun kehilangan semua kekuatan dan keperkasaan yang ada pada dirinya selama ini. Bahkan, tak ada seorang pun dari hamba dan rakyatnya yang mengenali siapa dia yang sesungguhnya. Ya, Sulaeman benar-benar berubah menjadi orang biasa, rakyat jelata.
Ringkas cerita, Sulaeman akhirnya terusir dari kerajaannya sendiri. Dia mengembara dan hidup sangat miskin. Bahkan untuk sekedar makan saja sulit untuk mendapatkannya.
Sampai suatu ketika, tibalah Sulaeman di sebuah pesisir. Di sana, dia melihat seorang nelayan tengah menarik dan melepas ikan-ikan dari jalanya. Karena didorong oleh rasa lapar, Sulaeman menawarkan diri untuk membantu si nelayan. Si nelayan tidak keberatan, namun dia hanya bisa memberikan satu ekor ikan kepada Sulaeman sebagai upah dari jerih payahnya.
Tidak diceritakan berapa lama Sulaeman membantu nelayan tua itu. Namun disebutkan, karena terpesona oleh keluhuran budinya, maka si nelayan akhirnya menikahkan Sulaeman dengan salah seorang putrinya.
Begitulah, Sulaeman menjalani kehidupan sebagai seorang nelayan….
Sementara itu, setelah Nabi Sulaeman kehilangan cincinnya, maka Istirohi-lah yang menguasai seluruh kerajaannya. Dengan cincin sakti itu, Istirohi benar-benar menjadi Sulaeman baik secara fisik maupun kekuatannya. Hanya satu hal yang membuat hamba dan rakyatnya merasa heran. Sulaeman tak lagi memerintah dengan adil dan bijaksana.
Sebagai sosok perdana menteri yang cakap dan andal, Asip Bin Barkhoya menaruh curiga pada sang raja yang telah berubah. “Mengapa Baginda Sulaeman menjadi tidak adil? Bukankah dia bukan hanya raja, tapi juga nabi yang harus berbuat adil kepada ummatnya?”
Kira-kira demikianlah kecurigaan Asip Bin Barkhoya. Dia merasa yakin bahwa yang memerintah saat itu bukanlah Sulaeman yang sebenarnya.
Akhirnya, Asip Bin Barkhoya mengadakan sebuah rapat rahasia dengan para ponggawa kerajaan lainnya. Ternyata, semuanya memiliki kecurigaan yang sama. Namun masalahnya, bagaimana cara membuktikan kecurigaan itu.
Setelah melakukan dialog, Asip Bin Barkhoya tiba pada suatu kesimpulan bahwa untuk membuktikan yang duduk di singgasana adalah Sulaeman palsu, maka harus diadakan pembacaan Kitab Zabur di dalam istana. Semua menyetujui usulan ini.
Pada hari yang telah ditentukan, saat Sulaeman palsu masih lelap di peraduan, sebuah majelis akbar digelar untuk membacakan Kitab Zabur. Apa yang terjadi?
Saat ayat-ayat Zabur berkumandang maka kepanasanlah seluruh tubuh Sulaeman palsu alias Istirohi. Dia menjerit-jerit kesakitan. Semakin keras Zabur dibaca, maka Istirohi pun semakin kesakitan, bahkan kemudian tubuhnya terlempar ke angkasa dan cincin sakti milik Nabi Sulaeman itu terlepas dari jari manisnya.
Dikisahkan, setelah terlepas dari tangan Istirohi cincin itu kemudian jatuh ke tengah samudera dan dimakan oleh seekor ikan. Ikan ini kemudian tertangkap oleh jala Nabi Sulaeman AS yang telah menjadi nelayan. Tanpa curiga, Sulaeman membawa ikan ini ke rumahnya. Saat isterinya membersihkan ikan tersebut, maka di dalam perut ikan ditemukanlah cincin sakti miliknya yang telah lama hilang.
Akhir dari cerita ini tentu sudah dapat diduga. Sulaeman memakai cincin sakti itu, dan dia kembali seperti sediakala….
Kisah tersebut jelas merupakan ujian Allah atas kenabian Sulaeman AS. Di samping itu, ada hal yang dapat disandingkan dengan pembahasan kita mengenai kesaktian sebuah jimat. Bahwa, Allah SWT memang berkehendak memberi kekuatan kepada benda-benda tertentu. Salah satunya, seperti pada cincin Nabi Sulaeman sebagaimana dikisahkan tadi.
Lalu, simak pula kisah kemukjizatan tongkat Nabi Musa AS yang dapat membelah lautan. Intinya, benda apa saja dapat memiliki kekuatan tersendiri atas ijin Allah SWT. Dalam lingkup yang lebih kecil, tidaklah mustahil atau bahkan diklaim sebagai takhayul bahwa jimat-jimat itu juga mengandung suatu kekuatan.
Baik cincin atau tongkat pada kisah Sulaeman dan Musa tentu saja kedua benda tersebut hanyalah media. Hal yang sama tentunya berlaku juga pada jimat. Ya, jimat, apa pun bentuknya, hanyalah sebuah media. Sementara kekuatan yang ada di dalamnya mutlak dari dan berasal dari Allah SWT. Karena itu, apakah seorang yang memegang jimat harus dianggap syirik?
“Tentu saja semua itu tergantung pada keyakinan masing-masing. Namun menurut hemat saya, hal tersebut harus kita kembalikan pada proses pembuatannya. Jika proses pembuatannya bersendikan pada Al Qur’an dan hadits, menurut hemat saya tentu tidak perlu dipermasalahkan,” komentar Saipudin menanggapi pertanyaan di atas.
Lebih lanjut diuraikan olehnya bahwa cara membuat jimat, mulai dari pemilihan bahan hingga proses penulisannya sesungguhnya tidak semudah seperti yang dibayangkan. Untuk menulis jimat misalnya, perlu diketahui rumusannya.
“Sama seperti matematika, penulisan jimat juga ada rumusnya. Jadi, tidak boleh sembarangan,” tegas Saipudin.
Seperti halnya Aljabar, menulis jimat juga mengenal perhitungan. Sebagai contoh, jika ingin membuat jimat dengan mencantumkan lafadz Asma’ul Husna yang jumlah nilainya 35 dengan memasukkannya ke dalam 8 kolom, maka kedua pertemuan sudut harus menghasilkan jumlah angka yang sama yakni 35. Demikian juga angka-angka pada kotak yang di tengah harus berjumlah 35 juga (lihat contoh kolom jimat).
“Mengapa harus seperti ini? Nah, ini tidak bisa dicarikan penjelasannya, sebab sudah pakem dari para ahli Ilmu Hikmah memang seperti itu,” urai Saipudin.
Di dalam pakem yang sama, juga telah ditetapkan aturan penulisan kolom-kolom pada jimat, yakni dimulai dari 4, 5, 6, dan 8. Ada juga yang 13 kolom, namun ini jarang digunakan karena tingkat kesulitannya. Masing-masing dari jumlah kolom tersebut juga memiliki nama tersendiri. Contohnya, yang 4 kolom disebut Murobba’, 5 kolom Mukhommas, dan yang 6 kolom disebut Musaddas.
Sementara itu, menyangkut waktu penulisan jimat digunakan dua rumus sekaligus, yakni rumus hari dan jam. Dijelaskan oleh Saipudin, kedua rumusan ini penting dipakai karena pada masing-masing hari ada rahasianya tersendiri. Menyangkut jam yang baik disebut sebagai Sa’at Sa’idah.
“Dalam pakem Ilmu Hikmah, setiap hari itu dijaga oleh nabi, malaikat dan jin yang berbeda. Rumusan ini sudah ada sejak ribuan tahun silam, hanya saja jarang diungkap. Mungkin, hanya para santri yang pernah belajar di pondok pesantren salafiyah (tradisional) yang mempelajarinya. Hal itupun sangat jarang diajarkan Kyai, kecuali kepada para santri senior yang sudah mesantren puluhan tahun,” papar Saipudin.
Terkait dengan rumus hari dan Sa’at Sa’idah, sebagai contoh disebutkan Saipudin:
– Hari Minggu: Nabinya Isya, Malaikatnya Rupayail, Jinnya Maimun, Sa’at Sa’idah pukul 10.
– Hari Senin: Nabinya Muhammad, Malaikatnya Jibroil, Jinnya Maroot, Sa’at Sa’idah pukul 10
– Hari Selasa: Nabinya Sulaiman, Malaikatnya Samsamail, Jinnya Ahmar, Saat Sa’idah tidak ada (hari kurang baik).
“Demikian seterusnya setiap hari dijaga oleh nabi, malaikat, dan jinnya masing-masing. Ibaratnya, mereka inilah yang kena giliran piket,” tambah Saipudin.
Karena hari memiliki watak yang berbeda-beda, maka untuk penulisan jimat harus disesuaikan dengan tujuan dan harinya. Kalau untuk pelarisan dan efek psikologis lainnya sangat baik dibuat pada hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jum’at. Sedangkan untuk tujuan kadigdayaan dan efek fisik sebaiknya dibuat pada hari Selasa atau Sabtu.
Menserasikan karakter hari dengan perhitungan nilai/neptu nama si pemakai jimat merupakan hal yang sangat penting agar jimat dapat menunjukkan keampuhannya. “Ini tak beda dengan rumusan Fengshui atau Numerologi,” tandas Saipudin lagi.
Dalam penulisan atau pembuatan jimat kerap kali ditemukan ayat-ayat Qur’an atau lafadz-lafadz Asma’ul Husna. Karena itu tak mengherankan bila banyak kalangan ulama (terutama Ulama Fiqih) menuding hal ini sebagai tindakan yang diharamkan. Menurut Saipudin, tuduhan seperti ini wajar saja. Salah satu alasannya, ditakutkan ayat Qur’an atau lafadz-lafadz tersebut dibawa ke suatu tempat yang kotor. Misalnya saja tempat maksiat.
“Nah, untuk mensiasati hal tersebut, para ahli Ilmu Hikmah memiliki kiat tersendiri,” tanggap Saipudin. Kiat yang dimaksudkannya, adalah:
1. Mengganti huruf-huruf dalam lafadz dengan angka atau nilai dari huruf-huruf tersebut. Contohnya: Menggantikan lafadz Allah (dalam huruf Arab/Hijaiyah) dengan angka atau nilai dari huruf-huruf Alif, Lam, Lam, dan H. Jadi dalam jimat bisa ditulis: 1, 30, 30, 5 (dalam angka Arab). (Daftar nilai huruf-huruf Hijaiyah lihat ilustrasi).
2. Menuliskan ayat dengan cara memotongnya dengan kolom.

***

Memang, terlalu singkat untuk mengungkap secara mendetail mengenai rahasia-rahasia jimat. Namun yang pasti, tulisan ini kami buat bukan dalam rangka untuk memprovokasi Anda agar percaya terhadap apa yang bernama jimat. Tulisan ini kami sajikan semata-mata untuk menambah wawasan Anda, dan agar kiranya Anda bisa mengambil sikap yang lebih tegas dalam menjawab seputar kontroversi yang terjadi selama ini.
“Setetes rahasia Ilahi, melalui kajian metafisika, setiap benda apa pun yang pada saat pembuatannya diikuti dengan kekuatan daya batin si pencipta, maka atas benda-benda tersebut akan melekat kekuatan daya batin tadi. Ini yang secara ilmiah disebut sebagai Bio-Elektron,” ungkap Saipudin dengan kata-kata yang penuh kedalaman makna.

12 Tanggapan to “MENJAWAB KONTROVERSI SEPUTAR JIMAT”

  1. rapidot said

    Ampun deh masa nabi dihubung2kan sama jimat..!!

    Soal nabi Sulaeman yang katanya gara2 cincin dicuri jadi hilang kedigjayaanya itu kan hal yang ga mungkin, kisah bagian tersebut mitos belaka.

    Klo Kisah Nabi Musa menurut saya bukan karena tongkatnya yang ajaib tapi Yang Maha Kuasa ga bakal melabrak hukum alam yang dibuatNya Sendiri sehingga untuk membelah laut diperintahkan ke Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut sehingga terbentang jalan yang dapat dilalui, hanya saja di sini Allah memberikan tambahan energi yang luarbisa besar ke Nabi Musa.

    Hal seperti yang dilakukan Nabi Musa kita bisa praktekan sendiri ko, coba aja anda sediakan air pada wadah yang pipih (biar gampang diamati) terus pukul tuh air pake tongkat pasti air akan menyingkir dan ada celah ditengahnya.

    • mignonet said

      Cincin itu cincin tanda kekuasaan, semacam “stempel resmi”nya. ibaratnya, kalo raja gak pake mahkota, maka dia gak disebut raja. soalnya gak ada penanda resmi bahwa dia raja. yg ini juga gitu. jadi, bukan berarti cincin Sulaiman itu jimat baginya sehingga ia hilang kekuasaan. tapi cincin itu penanda resmi kalo dia raja.

  2. abdullah said

    BENARKAH NABI SULAIMAN DAN NABI MUSA MEMAKAI JIMAT?
    Oleh: Abdullah Zaen

    Alhamdulillâh wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh.
    Barangkali pertanyaan di atas terasa begitu aneh, asing atau mungkin lucu di telinga sebagian besar pembaca, yang telah mendapatkan hidayah untuk mengenal akidah yang murni serta terdidik di atas ajarannya. Namun, lain halnya jika yang membaca adalah orang-orang yang ketergantungan terhadap benda mati (baca: jimat) telah mendarah daging dalam dirinya. Sampai-sampai ketika ada seseorang yang mencoba meluruskan keyakinan paganismenya itu, dia akan amat tersentak dan kaget dengan adanya pemahaman ‘baru’, yang 180 derajat bertolak belakang dengan apa yang diyakininya selama ini.
    Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat sekitar, bukan suatu hal yang aneh jika kita berhadapan dengan berbagai fenomena di atas. Seorang muslim yang cerdas dan memiliki semangat juang tinggi untuk menularkan al-haq yang telah ia nikmati, tentunya selalu berusaha mempersiapkan dirinya untuk menghadapi berbagai jenis manusia yang amat heterogen latar belakang pemikiran dan tingkat pendidikannya.
    Sebagai agama yang menjadikan penghambaan kepada Allah tujuan utamanya, tentu saja Islam tidak membenarkan ketergantungan seorang hamba kepada selain Allah, apalagi kepada benda-benda mati semisal jimat. Namun, kenyataan berkata lain, masih ada di sana sini, oknum-oknum kurang bertanggung jawab yang berusaha mencari dalih untuk melegalkan praktek pemakaian jimat. Di antara syubhat yang mereka hembuskan guna melancarkan usaha tersebut: kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan cincinnya juga kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dan tongkatnya, serta kesimpulan batil yang mereka tarik dari keduanya.
    Menurut anggapan mereka, cincin Nabi Sulaiman dan tongkat Nabi Musa, adalah benda mati yang Allah isi dengan kekuatan, lalu kedua nabi tersebut memanfaatkannya. Hal itu bukanlah tindak perbuatan syirik. Sebab benda-benda mati tersebut hanyalah media perantara. Begitu pula halnya jimat, hanyalah sekedar media perantara saja, berupa benda mati yang telah Allah isi dengan kekuatan. Berdasarkan analogi ini, penggunaannya tidaklah dianggap sebagai bentuk tindak kesyirikan.
    Meskipun syubhat di atas sangat lemah, sungguh sangat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang termakan oleh syubhat tersebut. Kenyataan ini menunjukkan betapa kejahilan masih sangat menggurita dalam diri mereka. Dan salah satu langkah nyata terbaik untuk mengatasi fenomena menyedihkan tersebut: mengerahkan daya upaya semaksimal mungkin, untuk menebarkan ilmu syar’i yang benar. Tulisan ini, diharapkan merupakan salah satu bentuk sumbangsih upaya tersebut.
    Pembahasan kita kali ini terbagi menjadi dua poin:
    Poin pertama: Studi kritis kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm dengan cincinnya.
    Kisah aneh ini disebutkan dalam beberapa literatur tafsir, tatkala memasuki pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan fitnah (ujian) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,
    “وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَداً ثُمَّ أَنَابَ”.
    Artinya: “Sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan kami letakkan sebuah jasad di atas singgasananya. Kemudian dia bertaubat”. QS. Shâd: 34.
    Redaksi kisah tersebut cukup panjang, intinya: “Konon Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm menikahi seorang wanita yang sangat beliau cintai, namanya Jarâdah. Hanya saja ia menyembah berhala di rumah Nabi Sulaiman, tanpa sepengetahuan beliau.
    Dikisahkan bahwa kekuatan Nabi Sulaiman, baik yang berkenaan dengan kerajaan maupun kenabian beliau, terletak pada cincin yang ia pakai. Pada suatu hari ketika hendak memasuki kamar kecil, beliau menitipkan cincinnya kepada salah seorang istrinya; Amînah. Sebelum beliau menyelesaikan hajatnya, datanglah setan yang menyamar dalam bentuk Nabi Sulaiman dan mengambil cincin tersebut lalu menduduki singgasana Sulaiman. Sehingga Nabi Sulaiman kehilangan kekuatannya, dan berubah bentuk, kemudian terusir dari kerajaannya. Si iblis berkuasa dan ‘menggagahi’ para istri Nabi Sulaiman, sampaipun pada masa haidh mereka. Hingga akhirnya Nabi Sulaiman menemukan cincinnya kembali, dalam perut seekor ikan yang dia dapatkan dari seorang nelayan tempat beliau bekerja, dst”.
    i. Komentar para ulama atas kisah tersebut:
    Para pakar tafsir klasik dan kontemporer serta selain mereka, memvonis batilnya kisah tersebut seraya menyebutkan, kisah ini tidak lebih hanyalah isrâiliyyât (dongeng-dongeng yang dinukil dari bani Israil) yang batil.
    Berikut statemen mereka :
    1. Ibnu Hazm (w. 456 H) menegaskan, “Ini semua khurafat kisah palsu dan dusta. Isnadnya sama sekali tidak sahih”.
    2. Al-Qâdhî ‘Iyâdh (w. 544 H) berkata, “Tidak sahih”.
    3. Ibn al-Jauzî (w. 597 H) menyebutkan kisah di atas “tidak absah dan tidak disebutkan oleh orang yang terpercaya”.
    4. Al-Qurthubî (w. 671 H) mengomentari pendapat orang yang menafsirkan “ujian” dengan kisah di atas, “Pendapat ini dilemahkan (para ulama)”.
    5. An-Nasafî (w. 710 H) menegaskan, “Ini termasuk kebatilan (yang dikarang) orang Yahudi”.
    6. Abu Hayyân (w. 745 H) bertutur, “Kisah ini tidak halal untuk dinukil dan termasuk karangan orang-orang Yahudi serta kaum zindiq”.
    7. Ibn Katsîr (w. 774 H) menerangkan, “Ini termasuk isrâîliyyât , nampaknya ini termasuk kedustaan Bani Israil. Oleh karena itu di dalamnya banyak terdapat hal-hal munkar”.
    8. Al-Îjî (w. 894 H) menjelaskan, “Ketahuilah, tidak ada satupun hadits sahih yang menyebutkan perincian kisah tersebut. Adapun apa yang dinukil dari salaf, kemungkinan besar termasuk isrâîliyyât”.
    9. Al-Alûsî Abu ats-Tsanâ (w. 1270 H) berkata, “Allahuakbar! Ini kedustaan yang besar dan perkara yang serius. Keabsahan penisbatan cerita ini kepada Ibnu Abbas tidak kita terima”.
    Dan masih banyak komentar lain yang senada , sengaja tidak kami nukil semua; khawatir berdampak pada terlalu panjangnya tulisan ini.
    Adapun pernyataan sebagian ulama yang menyebutkan bahwa sanad (jalur periwayatan) kisah tersebut hingga Ibnu Abbâs kuat, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsîr , Ibnu Hajar al-‘Asqalânî dan as-Suyûthî ; hal tersebut tidaklah menafikan kebatilan kisah ini. Sebab andaikan sanad tersebut memang sahih sampai ke Ibnu Abbâs, beliau hanyalah menukil kisah batil tersebut dari Ahlul Kitab yang masuk Islam. Jadi kisah tersebut tidak diambil Ibnu Abbas dari Rasulullah . Buktinya pada kesempatan lain, Ibnu Katsîr dan as-Suyûthî menegaskan bahwa kisah tersebut termasuk khurafat isrâîliyyât.
    Bedakan antara keabsahan penisbatan kisah tersebut kepada seseorang dengan kebatilan kisah itu sendiri. Perbedaan ini bisa kita analogikan dengan pemikiran-pemikiran sesat yang bermunculan di zaman ini. Penisbatan pemikiran tersebut kepada para kreatornya memang absah, tapi pemikiran itu sendiri sesat dan batil.
    ii. Kebatilan-kebatilan yang terkandung dalam kisah tersebut:
    Selain kisah tersebut diragukan keabsahan sanadnya, alur ceritanya juga mengandung kebatilan-kebatilan yang berkonsekuensi menodai kesucian kenabian dan keyakinan-keyakinan batil lainnya:
    1. Penyamaran setan dalam bentuk nabiyullah.
    2. Setan berhasil ‘menggagahi’ para istri nabiyullah, bahkan di saat mereka haidh!
    3. Kekuatan dan kenabian Sulaiman ‘alaihissalâm tergantung pada cincin yang ia pakai dan bersumber darinya. Akan abadi jika cincin itu ada dan akan musnah jika cincin tersebut hilang.
    4. Perubahan bentuk nabi Sulaiman ‘alaihissalâm.
    5. Adanya penyembahan terhadap berhala di dalam rumah nabiyullah.
    iii. Tafsir yang benar untuk ayat 34 dari surat Shâd di atas:
    Jika kita telah mengetahui bahwa kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm dengan cincinnya batil, maka kisah tersebut tidak layak untuk dijadikan sebagai tafsir dari ayat al-Qur’an. Namun timbul pertanyaan, “Tafsir seperti apakah yang benar dari ayat tersebut?”.
    Para ulama pakar menyebutkan, tafsir yang paling pas untuk “ujian” yang disebut ayat tersebut di atas, adalah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,
    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله : “قَالَ سُلَيْمَانُ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِينَ امْرَأَةً كُلُّهُنَّ تَأْتِي بِفَارِسٍ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ: قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَلَمْ يَقُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَطَافَ عَلَيْهِنَّ جَمِيعًا فَلَمْ يَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ جَاءَتْ بِشِقِّ رَجُلٍ، وَايْمُ الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُونَ”.
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda, “(Pada suatu hari) Nabi Sulaiman berkata, “Malam ini aku akan berhubungan badan dengan sembilan puluh istriku. Masing-masing (pasti) akan melahirkan lelaki penunggang kuda yang kelak berjihad di jalan Allah. Malaikat berkata padanya, “Katakan insyaAllah!”. Tetapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan insyaAllah. Lalu beliau berhubungan badan dengan seluruh istrinya tersebut, namun tidak seorangpun dari mereka yang mengandung, kecuali hanya satu. Itupun tatkala bersalin, melahirkan bayi hanya setengah badan.
    Demi Allah, andaikan Sulaiman mengucapkan insyaAllah; niscaya (akan lahir sembilan puluh anak laki-laki) seluruhnya menjadi penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah”.
    Kesimpulannya: kisah yang menyebutkan bahwa ‘kesaktian’ Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm bersumber dari cincin yang ia pakai, tidak bisa dipertanggungjawabkan, baik dari sisi sanad maupun alur ceritanya. Sehingga otomatis, tidak bisa dijadikan dalih untuk melegalisasi praktek pemakaian jimat.

    Poin Kedua: Studi kritis kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dengan tongkatnya.
    Jika pada studi kritis kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm dan cincinnya, pembahasan di dalamnya lebih banyak dititikberatkan pada sorotan akan keabsahan kisah tersebut; maka studi kritis kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm dan tongkatnya, tidak akan menempuh metode serupa. Sebab kisah tersebut sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Berhubung nas kisah penggunaan tongkat Nabi Musa ‘alaihissalâm telah disebutkan di dalam al-Qur’an.
    Pembahasan kita kali ini akan cenderung mengkritisi sisi istidlâl (penarikan kesimpulan) mereka dari kisah tersebut, untuk mendukung tindak pemakaian jimat. Hal itu bisa kita rumuskan dalam beberapa jawaban:
    i. Analogi mereka yang keliru.
    Perlu diketahui bahwa Nabi Musa ‘alaihissalâm memakai tongkatnya tersebut, berdasarkan perintah dan wahyu dari Allah ta’ala. Sebagaimana terlihat jelas dalam firman Allah,
    “فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ”.
    Artinya: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu!”. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar”. QS. Asy-Syu’arâ: 63.
    Juga firman-firman Allah lainnya.
    Yang menjadi pertanyaan: Apakah para penjaja jimat itu mengatakan, bahwa Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk memakai jimat, sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalâm untuk memakai tongkatnya?
    Jika mereka menjawab, “Ya”; berarti mereka telah mendustakan dalil-dalil syar’i yang begitu gamblang melarang pemakaian jimat.
    Kebalikannya, jika mereka mengatakan, “Tidak”; maka penganalogian mereka pemakaian jimat dengan pemakaian tongkat Nabi Musa, dikategorikan analogi yang keliru; karena kondisi keduanya berbeda.
    Silahkan memilih salah satu dari dua jawaban di atas, kedua-duanya tidak lain hanyalah bagaikan memakan buah simalakama.
    ii. Dari manakah ‘kesaktian’ jimat bersumber?
    Klaim mereka bahwa kekuatan yang ada dalam jimat bersumber dari Allah; sehingga tidak masalah untuk memanfaatkan kekuatan tersebut, adalah klaim yang murni berisi kedustaan atas Allah ta’ala. Karena jimat-jimat tersebut benda mati yang sama sekali tidak memiliki kekuatan. ‘Kesaktian’ yang mereka klaim dimiliki oleh jimat tersebut hanyalah ilusi dan khayalan yang mereka yakini.
    Andaikata jimat tersebut memang memiliki kekuatan, maka kekuatan itu bukanlah dari Allah, tetapi dari para setan yang disembah oleh pembuat jimat tersebut, sebagai bentuk timbal balik atas peribadatan mereka terhadap setan-setan itu.
    Pernyataan bahwa kekuatan dan tenaga yang ada dalam jimat tersebut bersumber dari Allah ta’ala, adalah pernyataan yang keliru, kecuali jika dipandang dari sisi takdir Allah, bukan dari sisi syar’i. Sebab Allah ta’ala melalui lisan Rasul-Nya , telah melarang pemakaian jimat. Sehingga dipandang dari sisi syariat, dia dibenci, namun secara takdir, terkadang bisa saja terjadi.
    Bukankah Allah telah melarang para hamba-Nya untuk melakukan tindak sihir dalam banyak ayat? Namun meskipun demikian, Allah menghendaki kejahatan sihir tersebut menimpa hamba-Nya yang paling mulia; yaitu Rasulullah , lantaran hikmah yang dikehendakinya!?
    Jika Allah berkehendak untuk menakdirkan terjadinya sesuatu, pasti hal itu akan terjadi. Namun kehendak Allah tersebut, tidak serta merta menunjukkan bahwa Allah mencintai dan meridhai sesuatu yang terjadi itu. Inilah keyakinan yang dianut Ahlus Sunnah dalam memahami takdir.
    Keyakinan ini dibangun di atas banyak dalil syar’i. Antara lain, firman Allah ta’ala,
    “مَن يَشَإِ اللّهُ يُضْلِلْهُ وَمَن يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ”.
    Artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah (dalam kesesatan); niscaya akan disesatkan-Nya. Dan barangsiapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk); niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus”. QS. Al-An’âm: 39.
    Dan firman-Nya,
    “وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ”.
    Artinya: “Dan Allah tidak mencintai kerusakan”. QS. Al-Baqarah: 205.
    Ayat pertama menunjukkan, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Adapun ayat kedua menunjukkan adanya berbagai hal yang dibenci Allah, tidak Dia cintai dan ridhai. Hal ini membuktikan adanya perbedaan antara kehendak dengan kecintaan dan keridhaan.
    Hubungan prinsip ini dengan klaim mereka bahwa kekuatan yang ada dalam jimat bersumber dari Allah ta’ala, adalah: andaikan jimat tersebut memang mempunyai kekuatan yang bersumber dari Allah: semua ini tidak menunjukkan bahwa Allah meridhai dan mencintai pemakaian jimat. Karena terkadang Allah menakdirkan terjadinya sesuatu yang sebenarnya tidak ia cintai. Dan hal ini salah satu contoh nyatanya.
    iii. Argumentasi mereka termasuk tindak melawan dalil dengan rasio.
    Dalih para penjaja jimat tersebut, bisa dikategorikan dalam tindak melawan dalil syar’i dengan argumen akal belaka. Sebab dalil-dalil dari al-Qur’an maupun Sunnah telah begitu gamblang menjelaskan haramnya pemakaian jimat, bahkan sebagiannya memvonis syirik perbuatan tersebut. Alangkah naifnya jika dalil-dalil sahih tersebut dilawan dengan argumen akal-akalan!
    Sebegitu banyaknya hadits yang melarang pemakaian jimat dan beraneka ragam metode Nabi  di dalam penyampaiannya, sampai-sampai hadits-hadits tersebut bisa diklasifikasikan menjadi beberapa macam :
    Jenis pertama: Hadits-hadits yang menyebutkan vonis Rasulullah  terhadap perbuatan tersebut sebagai tindak kesyirikan.
    Di antara hadits jenis ini, sabda Nabi ,
    “مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ”.
    “Barangsiapa menggantungkan jimat; berarti berbuat syirik”.
    Jenis kedua: Hadits-hadits yang menyebutkan pemberitahuan Rasulullah  ihwal terputusnya pertolongan Allah dan perhatian-Nya dari pemakai jimat.
    Di antara hadits jenis ini, sabda Nabi ,
    “مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ”.
    “Barangsiapa menggantungkan sesuatu; dijadikan ketergantungannya ada padanya”.
    As-Suyûthî menjabarkan hadits di atas, “Sabda Nabi  “dijadikan ketergantungannya ada padanya” merupakan kiasan akan tidak adanya pertolongan dari Allah bagi orang tersebut”.
    Jenis ketiga: Hadits-hadits yang menyebutkan Rasulullah  mendoakan keburukan bagi orang yang memakai jimat.
    Di antara hadits jenis ini, sabda Nabi ,
    “مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ”.
    “Barang siapa menggantungkan jimat, semoga Allah tidak menjadikan ia mencapai apa yang diinginkan. Dan barang siapa menggantungkan wada’ah (salah satu jenis jimat), semoga Allah tidak menjadikan dirinya tenang”.
    Jenis keempat: Hadits-hadits yang menyebutkan, bahwa Rasulullah  memerintahkan para sahabatnya untuk memotong jimat yang digantung di leher hewan ternak.
    Di antara hadits jenis ini, sabda Nabi  kepada para utusannya,
    “أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ”.
    “Janganlah kalung yang terbuat dari tali (jimat) dibiarkan tergantung di leher onta, melainkan dipotong”.
    Jenis kelima: Hadits-hadits yang menyebutkan penegasan Rasulullah  bagi siapa saja yang mati dalam keadaan memakai jimat; maka ia tidak akan beruntung selamanya.
    Di antara jenis hadits tersebut, sabda Nabi  tatkala melihat salah satu sahabatnya memakai jimat,
    “فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا”.
    “Jika engkau mati dalam keadaan jimat ini masih engkau pakai; niscaya engkau tidak beruntung selamanya”.
    Jenis keenam: Hadits-hadits yang menyebutkan, Rasulullah  berlepas diri dari orang-orang yang memakai jimat.
    Di antara hadits jenis ini, sabda Nabi ,
    “يَا رُوَيْفِعُ لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِي؛ فَأَخْبِرِ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ، أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا، أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ؛ فَإِنَّ مُحَمَّدًا  مِنْهُ بَرِيءٌ”.
    “Wahai Ruwaifi’, nampaknya sepeninggalku, engkau akan panjang umur. Beritahukanlah kepada orang-orang, barang siapa yang mengepang jenggotnya, atau mengalungkan tali (sebagai jimat), atau beristinja dengan kotoran hewan atau tulang; maka Muhammad  berlepas diri darinya”.
    Lihatlah dalil-dalil syar’i yang amat beragam metode penyampaiannya, begitu jelas menunjukkan haramnya pemakaian jimat. Apakah seluruh dalil di atas dan dalil-dalil lain yang senada akan di’adu’ dengan argumentasi akal belaka?! Tidakkah mereka merasa khawatir tertimpa ancaman Allah ta’ala,
    “فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ”.
    Artinya: “Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. QS. An-Nûr: 63.
    Kita tutup tulisan ini dengan merenungi ulasan yang disampaikan asy-Syâthibî (w. 790 H), tatkala beliau menggambarkan bagaimanakah generasi terbaik umat ini menyikapi dalil-dalil syar’i?
    Beliau bertutur, “Para sahabat Nabi  dan generasi sesudah mereka, tidak pernah melawan hadits-hadits Nabi  dengan pendapat-pendapat mereka. Baik mereka mengetahui maknanya ataupun tidak, entah sejalan dengan apa yang mereka ketahui ataupun tidak. Itulah konsekuensi penyampaian hadits Nabi . Hendaklah oknum yang gemar mengedepankan sesuatu yang penuh kekurangan –yaitu akal– atas sesuatu yang sempurna –yaitu syariat–; mengambil pelajaran dari hal itu”.
    Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
    Kota Nabi , Ahad 25 Rabi’ul Awwal 1430

    Daftar Pustaka:
    1. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
    2. Ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, karya Jalaluddin as-Suyuthi, tahqîq Dr. Abdullah at-Turkî, Jaizah: Dâr Hajar, cet I, 1424/2003.
    3. Adhwâ’ al-Bayân fî Îdhâh al-Qur’ân bi al-Qur’ân, karya Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthî, isyrâf Bakr Abu Zaid, Mekah: Dar ‘Alam al-Fawaid, cet I, 1426.
    4. Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, karya Ismâ’îl Ibn Katsîr, tahqîq Dr. Abdullah at-Turkî, Jaizah: Dâr Hajar, cet I, 1419/1998.
    5. Al-Isrâ’îliyyât wa al-Maudhû’at fî Kutub at-Tafsîr, karya Dr. Muhammad Abu Syahbah, Kairo: Maktabah as-Sunnah, cet IV, 1408.
    6. Al-I’tishâm, karya Ibrahim bin Musa asy-Syâthibî, tahqîq Masyhur bin Hasan, Amman: ad-Dar al-Atsariyyah, cet II, 1428/2007.
    7. Al-Jâmi’ ash-Shaghîr fî Ahâdîts al-Basyîr an-Nadzîr, karya Jalaluddin as-Suyûthî, Beirut: Dar al-Fikr, cet I, 1401/1981.
    8. Al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq Ghawâmidh at-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fi Wujûh at-Ta’wîl, karya Mahmud bin Umar az-Zamakhsyarî, tashîh Muhammad Abdussalâm Syâhîn, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet I, 1415/1995.
    9. Al-Qadhâ’ wa al-Qadar fî Dhau’i al-Kitâb wa as-Sunnah wa Madzahib an-Nâs fîhi, karya Dr. Abdurrahmân bin Shâlih al-Mahmûd, Riyadh: Dar al-Wathan, cet II, 1418/1997.
    10. Asbâb al-Khatha’ fî at-Tafsîr – Dirâsah Ta’shîliyyah, karya Dr. Thâhir Mahmûd Ya’qûb, Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, cet I, 1425.
    11. Asy-Syifâ bi Ta’rîf Huqûq al-Mushthafâ, karya al-Qâdhî ‘Iyâdh bin Mûsâ al-Yahshubî, tahqîq Ali Muhammad al-Bajâwî, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, tc, 1404/1984.
    12. Ghâyah al-Marâm fî Takhrîj Ahâdîts al-Halâl wa al-Harâm, karya Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albânî, Beirut: al-Maktab al-Islami, cet I, 1400/1980.
    13. Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, karya Muhammad bin Abdurrahmân al-Îjî, murâja’ah Shalâhuddîn Maqbûl Ahmad, al-Khalidiyyah Kuwait: Ghiras, cet I, 1428/2007.
    14. Madarij as-Sâlikîn baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în, karya Ibn al-Qayyim, tahqîq Muhammad Hâmid al-Faqî, Beirût: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1393/1973.
    15. Majalah Misteri, edisi 387, tanggal 20 Desember 2005 – 4 Januari 2006.
    16. Manâhil ash-Shafâ fî Takhrîj Ahâdits asy-Syifâ, karya Jalâluddîn as-Suyûthî, tahqîq Samîr al-Qâdhî, Beirut: Dar al-Jinan, cet I, 1408/1988.
    17. Mausû’ah al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalânî al-Hadîtsiyyah, dihimpun oleh Walîd bin Ahmad az-Zubairî dkk, Leeds Inggris: Majalah al-Hikmah, cet I, 1422/2002.
    18. Mausû’ah al-Isrâ’îliyyât wa al-Maudhû’ât fi Kutub at-Tafsîr, karya Muhammad Ahmad Isa, Kairo: Dar al-Ghad al-Jadid, cet I, 1428/2007.
    19. Mazhâhir al-Inhirâf fî Tauhîd al-‘Ibâdah ladâ Ba’dh Muslimî Indonesia wa Mauqif al-Islâm minhâ, karya Abdullah Zaen, tesis di Jurusan Akidah Universitas Islam Madinah, 1428/2008.
    20. Mazhâhir al-Inhirâf fî Tauhîd al-‘Ibâdah ladâ Ba’dh Muslimî Uganda wa Subul Mu’âlajatihâ ‘alâ Dhau’i al-Islâm, karya Husain Muhammad Buwa, tesis di Jurusan Akidah Universitas Islam Madinah, 1412/1992.
    21. Rûh al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa as-Sab’i al-Matsânî, karya Abu ats-Tsanâ Syihâbuddîn al-Alûsî, tashîh Ali Abdul Bârî ‘Athiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet I, 1415/1994.
    22. Shahîh al-Bukhârî, karya Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhârî, bersama Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, cetakan al-Maktabah as-Salafîyyah.
    23. Shahîh al-Jâmi’ ash-Shaghîr wa Ziyâdatuh (al-Fath al-Kabîr), karya Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, Beirut: al-Maktab al-Islami, cet III, 1408/1988.
    24. Shahîh Ibn Hibbân dengan tartîb Ibn Balbân yang berjudul Al-Ihsân fî Taqrîb Shahîh Ibn Hibbân, tahqîq Syu’aib al-Arna’ûth, Beirût: Mu’assasah ar-Risâlah, cet I, 1408/1988.
    25. Shahîh Muslim, karya Imâm Muslim bin al-Hajjâj, tahqîq Muhammad Fu’âd Abdul Bâqi, Beirût: Dâr Ihya’ at-Turâts al-‘Arabî.
    26. Sunan an-Nasâ’î, karya an-Nasâ’i, bersama Syarh al-Hafîzh Jalâluddin as-Suyûthi dan Hâsyiyah al-Imam as-Sindî, Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet I, 1411/1991.
    27. Sunan at-Tirmidzî, karya Abû Îsâ at-Tirmidzî, ‘inâyah Masyhûr Salmân, Riyâdh: Maktabah al-Ma’ârif, cet I.
    28. Sunan Ibn Mâjah, karya Muhammad bin Yazid al-Qazwînî, bersama Mishbâh az-Zujâjah fi Zawâ’id Ibn Mâjah, karya Syihâbuddin al-Bûshîrî, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, cet I, 1419/1998.
    29. Tafsîr al-Baghawî yang berjudul Ma’âlim at-Tanzîl, karya al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawî, tahqîq Muhammad Abdullah an-Namir dkk, Riyâdh: Dâr ath-Thaibah, 1411.
    30. Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, karya Muhammad bin Yûsuf Abu Hayyân, tahqîq Abdurrazzâq al-Mahdî, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cet I, 1423/2002.
    31. Tafsîr al-Qâshimî yang berjudul Mahâsin at-Ta’wîl, karya Muhammad Jamâluddîn al-Qâshimî, tashîh Muhammad Fu’âd Abdul Bâqî, penerbit Isa al-Bâby al-Halabi, tc, tt.
    32. Tafsîr al-Qurthubî dengan judul al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’an wa al-Mubayyin limâ Tadhammanah min as-Sunnah wa Ây al-Furqân, karya Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, tahqîq Dr. Abdullah at-Turkî dkk, Beirût: Mu’assasah ar-Risâlah, cet I, 1427/2006.
    33. Tafsîr an-Nasafî yang berjudul Madârik at-Tanzîl wa Haqâ’iq at-Ta’wil, karya Abdullah bin Ahmad an-Nasafî, tahqîq Yusuf Ali Budaiwî, Beirut: Dar al-Kalim ath-Thayyib, cet I, 1419/1998.
    34. Tafsîr ar-Râzî yang berjudul at-Tafsîr al-Kabîr atau Mafâtîh al-Ghaib, karya Fakhruddîn ar-Râzî, Beirut: Dar al-Fikr, cet I, 1401/1981.
    35. Tafsîr ath-Thabarî yang berjudul Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’an, karya Imâm Ibn Jarîr ath-Thabarî, tahqîq Dr. Abdullah at-Turkî, Jaizah: Dâr Hajar, cet I, 1422/2001.
    36. Tafsîr Ibn Abî Hâtim yang berjudul Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm Musnadan ‘an Rasulillah  wa ash-Shahâbah wa at-Tâbi’în, karya Abdurrahmân bin Muhammad Ibn Abi Hâtim, tahqîq As’ad Muhammad ath-Thayyib, Mekah: Maktabah Nizar al-Baz, cet I, 1417/1997.
    37. Tafsîr Ibn Katsîr yang berjudul Tafsîr al-Qur’an al-‘Azhîm, karya Ismâ’îl Ibnu Katsîr ad-Dimasyqî, tahqîq Sâmî Salâmah, Riyâdh: Dâr ath-Thaibah, cet I, 1418/1997.
    38. Zâd al-Masîr fî ‘Ilm at-Tafsîr, karya Abdurrahman bin Ali Ibn al-Jauzî, Beirut: al-Maktab al-Islami, cet II, tt.

  3. wahyu said

    Percaya pada benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan mistik itu boleh saja menurut saya tapi perlu di ketahui bahwa kekuatan itu hanya terjadi dengan ijin Allah SWT.Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini bila tanpa melalui kehendaknya.

  4. wahyudi said

    assalamualaikum pak?
    pak bagaimana ya agar saya ini menjadi pelajar yang cerdas,di hormati teman,dan berguna bagi semuanya,dan serta sukses?
    mohon di jawab?

  5. wahyudi said

    oh ya pak ada yng lupa , bagaimana agar saya inidapat mendapatkan pacar sekalgus jodoh?

  6. edoardus said

    Kayaknya ga munafik semua pejabat makai jimat tuh..saya kira dulu ngamdalin intelegensia..eeehhh ternyata banyak yang berdukun..

    Tapi banyak dari mereka ditipu dukun dengan sarana jimat,pusaka, dan cerita mistik sehingga hancurlah uangnya gara-gara provokasi dukun atau kyai palsu,pastur palsu, apalah sebutannya.

    Jimat yang asli itu satu ga dijual belikan dan yang ngasih ikhlas..mana ada jaman sekarang semua dimaharkan????jadi saran saya jangan pakai jimat kalo dikomersilkan ujung2nya bohong..ingat kekuatan ALLOH buikan untuk dijual bebas apalagi dikomersilkan.

    Mending ga pakai jimat lebih afdol berarti kita percaya diri dan andalannya Alloh SWT aja..
    attau makai jimat asal itu sarana atau alat aja dan tidak ada jaminan dia bekerja sesuai kemauan kita karena semuanya tergantung pada ALLOH SWT.

    Ingat dukun sekarang aja komersil berarti dia takut sama “Kemiskinan” alias ga mau kerja keras..hati hati..cari kyai,dukun, pastur ,pendeta asli…ilmunya pasti putih..dan ga bikin kantong bolong apalagi membikin kita tersesat jauh dari Tuhan YME.

  7. edoardus said

    Kayaknya ga munafik semua pejabat makai jimat tuh..saya kira dulu ngandalin intelegensia..eeehhh ternyata banyak yang berdukun..

    Tapi banyak dari mereka ditipu dukun dengan sarana jimat,pusaka, dan cerita mistik sehingga hancurlah uangnya gara-gara provokasi dukun atau kyai palsu,pastur palsu, apalah sebutannya.

    Jimat yang asli itu satu ga dijual belikan dan yang ngasih ikhlas..mana ada jaman sekarang semua dimaharkan????jadi saran saya jangan pakai jimat kalo dikomersilkan ujung2nya bohong..ingat kekuatan ALLOH bukan untuk dijual bebas apalagi dikomersilkan.

    Mending ga pakai jimat lebih afdol berarti kita percaya diri dan andalannya Alloh SWT/Tuhan aja..
    atau makai jimat asal itu sarana atau alat aja dan tidak ada jaminan dia bekerja sesuai kemauan kita karena semuanya tergantung pada ALLOH SWT.Bohong jimat bikin kita kaya,bikin kita kuat..kalo betul pastilah pembuat jimat ga ngejual tuh jimat…pasti dipakai dulu biar kaya raya duluan..pakai tuh akal mas..

    Ingat dukun sekarang aja komersil berarti dia takut sama “Kemiskinan” alias ga mau kerja keras..hati hati..cari kyai,dukun, pastur ,pendeta asli…ilmunya pasti putih..dan ga bikin kantong bolong apalagi membikin kita tersesat jauh dari Tuhan YME.

  8. yanto said

    sebelum kita mengenal sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya….maka ada baiknya kita mengenal diri kita,aqidah dan akhlaq kita,yang seperti rasullulah saw ajarkan di dalam kitab suci alquran….dan kenalkanlah allah swt ke dalam hatimu bahwa tiada daya dan upaya jika tiada ijin darinya..{allah swt }

  9. Iwan said

    Halal-Haram Memakai Hizib dan Azimat
    Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

    اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

    “Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya untukmu”. (QS al-Mu’min: 60)

    Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Diantaranya adalah:

    عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ
    الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟
    فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ
    يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

    Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

    Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

    Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    ”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya): Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.”

    Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

    Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat, misalnya:

    عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
    وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

    Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “‘Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

    Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan: “Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181).

    lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

    A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310).

    Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

    1.Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW.
    2.Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
    3.Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).
    ***

    KH Muhyiddin Abdusshomad
    Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: